Dakwah secara terbuka adalah sebuah pilihan yang tidak bisa dihindari. Ini ketika dakwah ingin masuk sebagai salah satu pilar penentu arah negeri ini. Apalagi ketika tahun 2009 nanti dakwah diharapkan menjadi 3 besar kekuatan politik nasional. Tentu ini sebuah cita-cita yang besar.
Yang nampaknya perlu dibahas secara jeli adalah bagaimana agar fenomena membuka diri ini benar-benar dipahami oleh kader secara luas. Artinya, ada pemahaman yang sama di seluruh elemen dakwah, sejak dari pusat hingga daerah. Berdakwah di era keterbukaan memerlukan wawasan yang jauh lebih detail.Sehingga kalau tidak disiapkan justru bisa menjadi kontra produktif. Oleh karena itu, kader dakwah di semua lini wajib hukumnya ditambah beragam wawasan, sejak dari wawasan sosial,politik,budaya hingga soal-soal kebangsaan.
Selasa, 05 Februari 2008
Sabtu, 19 Januari 2008
Ternyata Penting : Ekonomi dalam Dakwah
Nampaknya memang seperti tak bersinggungan. Ekonomi dan dakwah. Yang pertama menunjukkan sebuah dunia yang profan,bersifat sekuler dan kekinian. Sementara yang terakhir mengesankan sebuah keadaan yang seakan-akan hanya berkaitan dengan akhirat.Padahal dua dunia itu saling terkait,saling menunjang.Dakwah tanpa ditopang oleh kegiatan ekonomi akan menjadi pincang dan berjalan terseok-seok. Sangat klise terasa, bagaimana seorang kader dakwah sering tidak bisa mobile dalam menjalankan bertumpuk amanah hanya gara-gara tidak memiliki pulsa untuk hand phone-nya. Atau ada cerita lain, mereka tidak ada fulus untuk transport.
Cerita-cerita seperti ini adalah masalah yang sangat klise di dunia dakwah dan aktivis islam bahkan klise pula di dunia islam pada umumnya. Mau membangun masjid, bingung dana.Mau menggelar pengajian, anggaran darimana ?
Oleh karena itulah, maka sudah sangat mendesak untuk merumuskan sebuah program ekonomi untuk menunjang dakwah. UMKM adalah pilihan yang pas jika kita mau masuk dalam ranah dunia usaha. Hanya saja, memang harus menjadi pelajaran besar kasus-kasus yang dahulu pernah mengenai para aktivis dalam aspek muamalah. Perlu pembelajaran yang cepat, menambah ilmu manajemen, akuntansi keuangan dan sebagainya sebelum terjun secara benar dalam kancah ekonomi.
Cerita-cerita seperti ini adalah masalah yang sangat klise di dunia dakwah dan aktivis islam bahkan klise pula di dunia islam pada umumnya. Mau membangun masjid, bingung dana.Mau menggelar pengajian, anggaran darimana ?
Oleh karena itulah, maka sudah sangat mendesak untuk merumuskan sebuah program ekonomi untuk menunjang dakwah. UMKM adalah pilihan yang pas jika kita mau masuk dalam ranah dunia usaha. Hanya saja, memang harus menjadi pelajaran besar kasus-kasus yang dahulu pernah mengenai para aktivis dalam aspek muamalah. Perlu pembelajaran yang cepat, menambah ilmu manajemen, akuntansi keuangan dan sebagainya sebelum terjun secara benar dalam kancah ekonomi.
Selasa, 08 Januari 2008
Mendsak,Up grading Kualitas Juru Dakwah
Dakwah yang ruang lingkupnya seluas kehidupan itu sendiri, memerlukan totalitas penguasaan medan dari sang juru dakwah. Apa yang disebut sebagai fissilmi kaafah, sesungguhnya adalah tuntutan bahwa juru dakwah mesti menguasai beragam masalah.
Apalagi ketika dakwah sudah merambah ke berbagai wilayah : pendidikan, sosial,budaya hingga politik. Maka "daya adaptasi" kader dakwah terhadap dinamika dan ilmu-ilmu kekinian tidak bisa ditawar-tawar lagi.Sebab, dalam berbagai bidang itu memang tersimpan tantangan-tantangan yang amat berat. Bisa dibayangkan jika para juru dakwah tidak ter-up grade dengan baik.
Maka, sudah waktunya untuk meng-up grade para da`i dengan bidang keilmuan baru. Soal internet, misalnya. Para kader mesti "melek" dan nyemplung di dalamnya. Sebab,--- disamping side effect yang ada--- internet sangat membantu para juru dakwah.Begitulah, Yusuf Qordhowi pun sempat memfatwakan bahwa wajib kifayah hukumnya ummat ini menguasai teknologi IT.Ya,kualitas dakwah pun akhirnya seiring sejalan dengan kualitas juru dakwahnya. Man bihind the gun.Wallahu a`lam
Apalagi ketika dakwah sudah merambah ke berbagai wilayah : pendidikan, sosial,budaya hingga politik. Maka "daya adaptasi" kader dakwah terhadap dinamika dan ilmu-ilmu kekinian tidak bisa ditawar-tawar lagi.Sebab, dalam berbagai bidang itu memang tersimpan tantangan-tantangan yang amat berat. Bisa dibayangkan jika para juru dakwah tidak ter-up grade dengan baik.
Maka, sudah waktunya untuk meng-up grade para da`i dengan bidang keilmuan baru. Soal internet, misalnya. Para kader mesti "melek" dan nyemplung di dalamnya. Sebab,--- disamping side effect yang ada--- internet sangat membantu para juru dakwah.Begitulah, Yusuf Qordhowi pun sempat memfatwakan bahwa wajib kifayah hukumnya ummat ini menguasai teknologi IT.Ya,kualitas dakwah pun akhirnya seiring sejalan dengan kualitas juru dakwahnya. Man bihind the gun.Wallahu a`lam
Senin, 31 Desember 2007
Sungguh,Kebodohan Itu Ternyata Telah Merata
Tahun baru 2008,Alun-Alun Trenggalek. Sebenarnya aku hendak tidur malam itu. Disamping cuaca memang buruk : angin kencang berhembus sore hari,hujan mengguyur bumi sepanjang waktu, saat itu memang aku lagi payah. Ini setelah seharian mondar-mandir urusan halaqoh dan kelompok-kelompok pengajian. Tapi, menjelang setengah dua belas,mendadak perut terasa nyeri.Maka "La Tahzan" yang ada di tangan segera kutanggalkan dan keluar rumah untuk cari sesuatu yang bisa mengganjal perut.
Aku sama sekali tidak menyangka,ternyata ini malam pergantian tahun.Sesuatu yang bagiku tidak istimewa sama sekali sekarang. Namun, ternyata bagi kebanyakan orang dirasakan begitu lain. Tahun yang berganti,tidak ada istimewanya selain bahwa usia kita jadi bertambah dan umur kita kian hari kian mendekati habis. Sehingga, bagiku untuk merenungi soal "waktu" tak usah menunggu tahun baru. Tiap detik adalah saat yang berharga dalam hidup. Begitulah Aid Al Qorni, sang pemilik "La Tahzan" pun berujar bahwa : Hari Ini Adalah Harimu. Artinya, realitas yang bisa dijamah manusia adalah saat sekarang ini. Esok adalah kemungkinan. Dan kemarin adalah kenangan. Jadi, untuk merenungi sesuatu terkait waktu, nggak usahlah nunggu tahun baru. Sebab, setiap waktu adalah momentum. Sehingga, sejak aku mengenal fikrah dakwah ini, aku tidak lagi mengistimewakan tahun baru.
Tapi...ya itu tadi.Ternyata orang pada keluar malam-malam. Ada dangdut di alun-alun, ada wayang kulit di pendopo.Dan....ternyata di daerah semiskin Trenggalek,orang masih ada yang pesta kembang api.Masya` Allah. Terkejut aku dibuatnya. Sebab, ini kan hari ke-4 banjir.Namun, kota kecil ini seakan telah lupa pada bencana itu.
Orang-orang pada keluar.Anak-anak muda berkumpul di sepanjang jalan di dan sekitar alun-alun. Tentu, dengan segala tingkah polahnya yang sedikit sekali nilai positifnya. Tepat jam 12.00, suasana jadi lain. Kembang api ditembakkan,sepeda motor diglayyer gas-nya keras-keras, dan --- ini yang bikin geli --- terompet ditiup. Pawai digelar hingga sekitar satu jam.
Maunya beli bakso saja, tapi aku jadi terjebak di kerumunan orang-orang.Aku menjadi orang lain diantara begitu dahsyatnya polah orang-orang. Telinga pun jadi pekak oleh mercon yang meletus disana-sini.Aku tidak tahu pasti,apa maunya orang-orang. Tapi besar dugaanku,mereka adalah korban dari budaya "latah", kultur ikut-ikutan yang akut di bangsa ini.
Dan,ini bukan Jakarta.Bukan Surabaya.Ini adalah Trenggalek,ujung barat Jawa Timur.Ini adalah Trenggalek yang jauh dari sebutan metropolitan.Ini desa saja.Tapi...lihat,kebodohan ini ternyata telah merata.Ya,kebodohan itu telah merata.Tantangan dakwah di depan mata.
Aku sama sekali tidak menyangka,ternyata ini malam pergantian tahun.Sesuatu yang bagiku tidak istimewa sama sekali sekarang. Namun, ternyata bagi kebanyakan orang dirasakan begitu lain. Tahun yang berganti,tidak ada istimewanya selain bahwa usia kita jadi bertambah dan umur kita kian hari kian mendekati habis. Sehingga, bagiku untuk merenungi soal "waktu" tak usah menunggu tahun baru. Tiap detik adalah saat yang berharga dalam hidup. Begitulah Aid Al Qorni, sang pemilik "La Tahzan" pun berujar bahwa : Hari Ini Adalah Harimu. Artinya, realitas yang bisa dijamah manusia adalah saat sekarang ini. Esok adalah kemungkinan. Dan kemarin adalah kenangan. Jadi, untuk merenungi sesuatu terkait waktu, nggak usahlah nunggu tahun baru. Sebab, setiap waktu adalah momentum. Sehingga, sejak aku mengenal fikrah dakwah ini, aku tidak lagi mengistimewakan tahun baru.
Tapi...ya itu tadi.Ternyata orang pada keluar malam-malam. Ada dangdut di alun-alun, ada wayang kulit di pendopo.Dan....ternyata di daerah semiskin Trenggalek,orang masih ada yang pesta kembang api.Masya` Allah. Terkejut aku dibuatnya. Sebab, ini kan hari ke-4 banjir.Namun, kota kecil ini seakan telah lupa pada bencana itu.
Orang-orang pada keluar.Anak-anak muda berkumpul di sepanjang jalan di dan sekitar alun-alun. Tentu, dengan segala tingkah polahnya yang sedikit sekali nilai positifnya. Tepat jam 12.00, suasana jadi lain. Kembang api ditembakkan,sepeda motor diglayyer gas-nya keras-keras, dan --- ini yang bikin geli --- terompet ditiup. Pawai digelar hingga sekitar satu jam.
Maunya beli bakso saja, tapi aku jadi terjebak di kerumunan orang-orang.Aku menjadi orang lain diantara begitu dahsyatnya polah orang-orang. Telinga pun jadi pekak oleh mercon yang meletus disana-sini.Aku tidak tahu pasti,apa maunya orang-orang. Tapi besar dugaanku,mereka adalah korban dari budaya "latah", kultur ikut-ikutan yang akut di bangsa ini.
Dan,ini bukan Jakarta.Bukan Surabaya.Ini adalah Trenggalek,ujung barat Jawa Timur.Ini adalah Trenggalek yang jauh dari sebutan metropolitan.Ini desa saja.Tapi...lihat,kebodohan ini ternyata telah merata.Ya,kebodohan itu telah merata.Tantangan dakwah di depan mata.
Jumat, 28 Desember 2007
Manajemen Bencana : Sebuah Tinjauan Dakwah
Oh,ya...melengkapi renungan seputaran bencana,nampaknya perlu dikaji lebih dalam, bagaimana sebenarnya manajemen bencana (disaster management) dari perspektif dakwah. Artinya, dalam mendekati sebuah bencana, perlu disertakan anasir-anasir ruhani.Agar apa yang biasa muncul dalam pendekatan-pendekatan pada umumnya,bisa lengkap lagi.
Bahwa dibalik seluruh yang terjadi, sesungguhnya semuanya diawali sebuah langkah kemanusiaan yang salah : menjauhi Allah SWT. Ayatnya tentu saja adalah " Lau anna ahlal quro amanu wattaqou la fatahna alaihim barokatum minas samawati wal ardhi..." Tema ini perlu digarap serius.
Bahwa dibalik seluruh yang terjadi, sesungguhnya semuanya diawali sebuah langkah kemanusiaan yang salah : menjauhi Allah SWT. Ayatnya tentu saja adalah " Lau anna ahlal quro amanu wattaqou la fatahna alaihim barokatum minas samawati wal ardhi..." Tema ini perlu digarap serius.
Bencana Di Sekitar Kita
Bencana di seputaran kita.Banjir dan longsor nyaris merata sejak dari Madiun, Ngawi,Ponorogo,Trenggalek,Tulungagung hingga Malang dan kota-kota lain di Jatim. Apa artinya? Apa artinya ini semua. Tentu saja bukan sekedar kita tahu bahwa penyebab semua ini lantaran hutan yang kian hari kian habis dibabat. Juga bukan sekedar karena apa yang orang ramai katakan sebagai global warming,pemanasan global..
Namun, dari sisi dakwah, ini adalah sebuah titik akumulatif,dimana Allah SWT telah mengambil sebuah "kebijakan" bahwa negeri ini memang layak menerima sebagian dari takdir-Nya berupa kemalangan-kemalangan,cerita-cerita buruk.Barangkali inilah wujud nyata dari "dzoharol fasadu fil barri wal bahri bima kasabat aidinnas". Dipampangkan di sekitar kita akibat dari ulah tangan manusia. Keluarannya bisa berupa : banjir, longsor, puting beliung,gelombang laut tinggi, kelud dan krakatau batuk-batuk hingga ancaman tsunami.
Dengan logika dakwah, semua soal menjadi begitu sederhana.Termasuk apa yang diributkan orang dengan istilah bencana.Ya,ini semua hanyalah buah dari sikap ketidaktaatan dan sikap abai penghuni semesta ini dari titah Allah SWT.
Bencana di sekitar kita.Kalau begitu, apa artinya ini bagimu? Gampang saja : Ini adalah jeweran Allah kepada orang-orang. Pertanyaannya adalah : terasa apa tidak bahwa ini jeweran dari-Nya. Nah, disinilah tugas dakwah itu.
Namun, dari sisi dakwah, ini adalah sebuah titik akumulatif,dimana Allah SWT telah mengambil sebuah "kebijakan" bahwa negeri ini memang layak menerima sebagian dari takdir-Nya berupa kemalangan-kemalangan,cerita-cerita buruk.Barangkali inilah wujud nyata dari "dzoharol fasadu fil barri wal bahri bima kasabat aidinnas". Dipampangkan di sekitar kita akibat dari ulah tangan manusia. Keluarannya bisa berupa : banjir, longsor, puting beliung,gelombang laut tinggi, kelud dan krakatau batuk-batuk hingga ancaman tsunami.
Dengan logika dakwah, semua soal menjadi begitu sederhana.Termasuk apa yang diributkan orang dengan istilah bencana.Ya,ini semua hanyalah buah dari sikap ketidaktaatan dan sikap abai penghuni semesta ini dari titah Allah SWT.
Bencana di sekitar kita.Kalau begitu, apa artinya ini bagimu? Gampang saja : Ini adalah jeweran Allah kepada orang-orang. Pertanyaannya adalah : terasa apa tidak bahwa ini jeweran dari-Nya. Nah, disinilah tugas dakwah itu.
Selasa, 11 Desember 2007
Sabar di Sepanjang Jalan
Jalan ini panjang. Setiap saat menghadapi beragam kerikil dan onak duri. Beragam problem menerpa, baik dari internal maupun eksternal. Sementara, tidak ada istirah di jalan ini. Tidak ada cuti dalam dakwah. Terus, terus dan terus bergerak menuju Allah. Di setiap tanjakan jalan yang menaik, kita perlu menyediakan stok kesabaran yang melimpah.
Sabar di jalan dakwah, harus selalu menjadi suluh penerang sang da`i dalam berjalan. Sebab, semenit saja lepas dari kesadaran itu, da`i akan menjadi tidak sabar. Ketidaksabaran da`i akan menjadi pintu pembuka bagi kegagalan-kegagalan meniti jalan.
Yang mengkhawatirkan adalah ketika akibat ketidaksabaran itu, berbuntut di akhirat kelak. Na`udzubillah. Allahumma `ainni `ala dzikrika wa syukrika wa husni `ibadatika.
Sabar di jalan dakwah, harus selalu menjadi suluh penerang sang da`i dalam berjalan. Sebab, semenit saja lepas dari kesadaran itu, da`i akan menjadi tidak sabar. Ketidaksabaran da`i akan menjadi pintu pembuka bagi kegagalan-kegagalan meniti jalan.
Yang mengkhawatirkan adalah ketika akibat ketidaksabaran itu, berbuntut di akhirat kelak. Na`udzubillah. Allahumma `ainni `ala dzikrika wa syukrika wa husni `ibadatika.
Langganan:
Postingan (Atom)